5 Cara Baru Guru Naik Kelas lewat Content Marketing

Adakah profesi yang menuntut banyak keahlian dalam satu hari kerja? Mungkin ada tapi tak banyak, salah satunya adalah profesi guru. Jika di sekolah ada bel istirahat maka itu tidak berlaku untuk seorang guru selama murid-muridnya masih bersamanya di sekolah, bahkan kadang sampai mereka pulang dan diwaktu liburpun, pekerjaan guru belum selesai. Komunikasi dengan orang tua, informasi dari sekolah kerap memakai waktu istirahat dan libur mereka. Kenapa harus seperti itu? Orang mengganggap bahwa semua itu adalah tupoksi seorang guru yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, tugas utama guru di Indonesia adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah.

Dalam rangka memenuhi isi dari undang-undang di atas berbagai pelatihan diberikan kepada guru, mulai dari pedagogik sampai pertolongan pertama pada kecelakaan. Tak jarang guru dikelas menjadi “dokter dadakan” yang harus siap menangani anak yang tiba-tiba demam. pusing ataupun terluka saat bermain, kadang pula guru harus siap menjadi “psikolog instan” yang setia mendengarkan cerita murid-muridnya, tidak jarang juga guru harus menjadi “hakim” saat murid-muridnya berselisih paham dengan temannya. Belum lagi guru juga dituntut harus siap berperan sebagai “customer service” sekolahan yang melayani berbagai keluhan dan pertanyaan dari orang tua. Kompleksitas inilah yang menjadikan seorang guru menjadi pribadi yang multi tasking.

Fakta di atas bukan sebuah ancaman bagi profesi guru, tapi ini sebenarnya peluang besar yang bisa membuka jalan manfaat dan rezeki yang lebih luas. Keahlian yang didapatkan dari polesan bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun selama bekerja sebagai guru menyimpan nilai lebih yang selama ini tidak terlihat oleh banyak pihak. Kegagalan demi kegagalan, keberhasilan dan kejenuhan adalah pengalaman mahal yang tidak dapat dibeli dengan hanya duduk di bangku kuliah. Guru yang berpengalaman sangat bisa memberikan manfaat yang jauh lebih besar sehingga dapat memiliki kualitas dan kepuasan hidup yang lebih baik. Bukankah jika guru bahagia maka murid pun akan bahagia?

Sayangnya, guru-guru berpengalaman biasanya sudah berusia tua sehingga sulit untuk mengambil side job seperti memberikan les tambahan untuk menambah penghasilan, karena beban kerja yang sudah cukup lama dari jam tujuh hingga jam empat sore sudah cukup menguras energi dan emosi. Guru juga punya keluarga yang harus dibahagiakan dan dijaga, guru juga manusia yang perlu didengarkan keluh kesahnya serta bercengkrama dengan teman temannya. Jika demi untuk sebuah kehidupan yang layak guru harus menambah jam kerja, tentunya ini akan mempengaruhi semua aspek kehidupannya termasuk kinerjanya di sekolah.

Selain memberikan les, salah satu upaya guru di Indonesia meningkatkan kesejahteraannya adalah dengan berwirausaha atau bahkan mengambil lebih dari satu pekerjaan tetap. Untungnya di era internet ini guru yang berwirausaha menjadi sangat dimudahkan walaupun ini berarti guru juga harus bisa membagi waktunya yang tersisa sedikit untuk memantau transaksi ataupun mengirim barang.

Jadi adakah pilihan profesi lain yang tidak terlalu memakan waktu dan tenaga guru namun tetap dapat menghasilkan ? Nah di era memasuki 5G ini sudah mulai banyak guru yang sukses memperbaiki kualitas hidupnya melalui jalur menjadi content creator. Kata content creator ini mungkin bagi sebagian guru langsung terbayang profesi yang dituntut keterampilan dan pengetahuan komputer tingkat tinggi. Padahal senyatanya profesi ini sebenarnya tidaklah semengerikan itu. Justru peluang ini sangat lebar terbuka untuk profesi guru, menurut survei APJII tahun 2025, jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 229,4 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 80,66% dari total penduduk Indonesia. Artinya, lebih dari 8 dari 10 orang Indonesia telah terhubung ke internet. Dan kelompok dengan tingkat penetrasi internet tertinggi adalah generasi milenial (89,12%) dan Gen Z (87,8%)

Menjadi content creator sejatinya adalah keseharian seorang guru, bagaimana tidak?, bukankah setiap hari guru terbiasa memberikan edukasi tentang banyak hal, mendokumentasikan kegiatannya di kelas bersama murid-murid, menjadi PJ kegiatan besar sekolah, ikut pelatihan-pelatihan yang menarik dan menceritakannya kembali kepada rekan guru lainnya. Dimulai dari hal sederhana yang bermakna dari balik dinding sekolah, guru adalah profesi yang sangat akrab dengan aktivitas kerja seorang content creator. Dibandingkan dengan menjadi wirausahawan ataupun guru les, menjadi content creator lebih fleksibel dan lebih mudah karena dapat memanfaatkan personal branding yang kuat sebagai guru.

Berikut ini adalah lima cara yang dapat dilakukan guru jika ingin menjajal profesi content creator yang tentunya dapat menjadi tambahan penghasilan bulanan.

  1. Rayakan setiap makna keberhasilan dan kegagalan sebagai seorang guru dalam bentuk tulisan, foto ataukah video
  2. Konsisten membaginya diberbagai aplikasi ataupun media sosial secara berkala dan terencana
  3. Cari tahu bagaimana membuat tulisan ataupun video dapat menghasilkan uang, contoh program afiliasi, artikel bersponsor, iklan google adsense ataupun endorse
  4. Jadilah genuine, menulislah seperti berbicara pada sahabat sejati yang tidak akan pergi meninggalkan saat lelucon terdengar tak lucu, selalu setia dalam kondisi suka dan duka
  5. Bergabunglah dengan komunitas ataupun mengikuti pelatihan content creator profesional yang saat ini cukup banyak di internet. Tentunya karena bidang ini sangat dinamis, update tools yang mempermudah dengan adanya Ai akan lebih cepat didapat dari kedua tempat tersebut sehingga keterampilan juga akan sangat terbantu berkembang lebih baik

Bagaimana ? Sudah tertarik untuk mencoba menjadi guru yang content creator? Jika sudah, yakin dan mulailah secepatnya. Jangan menunda-nunda. Bayangkan dari seorang guru yang menjadi content creator akan ada lebih banyak orang yang bisa merasakan manfaat dari pengalaman seorang guru dalam menghadapi murid-muridnya. Karena gurulah yang menghadapi realita pendidikan Indonesia di garda terdepan. Suara guru sebagai content creator adalah oase di tengah kebingungan arah platform besar pendidikan Indonesia. Di Indonesia tak viral maka tak di dengar. Permasalahan yang dihadapi guru adalah permasalahan bangsa, siapa tahu saat guru-guru mulai banyak yang bersuara sebagai content creator pemerintah akan terketuk hatinya untuk menerima pendapat dari para guru content creator ini.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *